|

Tuesday, 26 August 2014

Jumlah Bau yang Bisa Dicium Hidung Manusia


Orang seringkali mengatakan manusia dapat membedakan hanya sekitar 10 ribu bau berbeda.

Namun , sebuah penelitian terbaru menunjukkan hidung dapat mencium sekitar 1 trilyun bau berbeda. "Temuan ini memberi sebuah inferioritas kompleks tentang indra penciuman kita", kata Leslie Vosshall, seorang peneliti penciuman dari Universitas Rockefeller dai New York seperti di lansir LiveScience.

Dalam literatur ilmiah dan populer dikatakan bahwa hidung manusia dapat mencium 10 ribu bau berbeda. Hanya saja sedikit penelitian yang benar-benar menguji kebenarannya. Namun, dalam studi terbaru ini, para peneliti menduga hidung manusia dapat mencium lebih banyak dari 10 ribu bau berdasarkan fakta bahwa hidung memiliki 400 reseptor penciuman. Menguji kebenaran orang bisa mencium 10 ribu aroma yang berbeda atau lebih akan menjadi tugas yang mustahil. Oleh karena itu, Visshall dan rekannya menguji sub set bau dalam kombinasi yang berbeda dan memperkirakan jumlah bau yang dapat dibedakan hidung manusia. Para peneliti menciptakan campuran dari 128 molekul bau yang berbeda.

Molekul-molekul ini menyerupai seperti rumput atau jeruk, tetapi semuanya digabungkan, maka akan tercium bau yang berbeda (asing). Kemudian mereka meminta relawan untuk mengidentifikasinya. Hasil penelitian menunjukkan manusia dapat mencium setidaknya 1 trilyun bau yang berbeda. (ans: Ant)

Varises atau Varices


Varises atau Varices adalah pembuluh darah balik (vena) yang melebar dan berkelok-kelok akibat gangguan (hambatan) aliran darah. Hal ini lantaran ketidakmampuan katub (klep) vena dalam mengatur aliran darah. Akibatnya aliran darah yang seharusnya mengalir lancar ke arah jantung, mengalami hambatan dan terjadi arus balik sebagian aliran darah dalam pembuluh darah vena, sehingga pembuluh darah vena melebar dan berkelo-kelok.



Varices terutama terjadi pada tulang tungkai, namun varices juga dapat terjadi pada daerah "anorektal" (haemorrhoid), esofagus, dan juga pada daerah sekeliling buah pelir (varicocele), yang akan dibahas kali ini adalah varices pada tungkai bawah.

Diperkirakan varices pada ektremitas bawah terjadi pada satu diantara lima orang di dunia. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dan orang yang pekerjaannya menuntut untuk berdiri lama. Varices lebih sering dijumpai pada usia lebih tua, Kelainan ini tidak hanya menimbulkan masalah kosmetik tetapi juga dapat menimbulkan masalah yang lebih serius.

Adapun faktor resiko untuk timbulnya suatu varices antara lain:
1.Faktor keturunan
Varices biasanya terjadi saat dewasa akibat perubahan hormon dan bertambahnya berat badan. Ditunjukkan dengan terjadinya penyakit yang sama pada beberapa anggota keluarga dan gambaran varices pada usia remaja, kemungkinan besar disebabkan faktor keturunan.

2.Kehamilan
Meningkatnya hormon "progesteron" dan bertambahnya berat badan saat hamil yang menyebabkan kaki semakin terbebani, akibatnya aliran darah dari kaki, tungkai, pangkal paha dan perut  bagian bawah pun terhambat.

3.Kurang Gerak
Gaya hidup perkotaan yang kurang gerak, menyebabkan otot sekitar pembuluh darah vena tidak mampu memompa darah secara maksimal.

4.Faktor Berdiri lama
Berdiri terlalu lama membuat kaki terlalu berat menahan tubuh dan memperparah beban kerja pembuluh vena dalam mengalirkan darah. Pada posisi tersebut tekanan vena 10 kali lebih besar, sehingga vena akan teregang diluar batas kemampuan elastisitasnya sehingga terjadi inkompetensi pada katup. Bila pekerjaan mengharuskan banyak berdiri, usahakan untuk tidak berdiri dengan posisi statis (diam), tapi tetap bergerak. Misalnya dengan berjalan di tempat, agar otot tungkai dapat terus bekerja memompa darah ke jantung.

5.Obesitas
Hal ini dihubungkan dengan tekanan "Hidrostatik" yang meningkat akibat peningkatan volume darah serta kecendrungan jeleknya struktur penyangga vena.

6.Faktor Usia
Pada usia lanjut, insiden varices akan meningkat. Dinding pembuluh vena menjadi lemah serta menjadi tipis, disamping itu akan terdapat atrofi otot betis sehingga tonus otot menurun.
Keluhan awal yang paling sering ditemukan pada penderita varices adalah rasa gatal dan bengkak (berat) pada tungkai bawah (betis), terutama setelah berdiri lama atau duduk terlalu lama. Keluhan akan berkurang bila penderita berbaring dengan posisi kaki ditinggikan, akan tetapi keluhan yang sering membawa penderita ke dokter adalah masalah kosmetik, karena tampak pelebaran vena ditungkai bawah.

Kebanyakan terapi varises dilakukan diatas indikasi kosmetik dan dilakukan secara konservatif. Tetapi konservatif yaitu terapi dengan penggunaan "elastic stocking", terapi lainnya adalah terapi dengan suntikan "sklerosis" (sclerotheraphy) yang dapat diberikan pada varices yang kecil. Bila terapi konservatif gagal atau bila terjadi tukak, pendarahan ataupun thrombosis, maka terapi harus lebih agresifdan dilakukan tindakan pembedahan.
Terapi pembedahan yaitu dengan cara "ligasi" (pengikatan) dan "eksisi" (pengangkatan) vena yang mengalami varices, ada juga beberapa teknik lain yang cukup baru saat ini yakni "radiofrequency ablation" dan "endovenous laser ablation".

Adapun beberapa langkah dalam mencegah timbulnya varices antara lain:
1.Makan makanan bergizi dan olahraga teratur.
2.Hindari berdiri terlalu lama. Sedapat mungkin melakukan relaksasi jika dalam aktifitas sehari-hari dituntut berdiri lama.
3.Hindari terlalu lama duduk dengan kaki menyilang. Posisi ini dapat menghambat aliran darah dari tungkai ke arah jantung.
4.Hindari pemakaian bawah yang terlalu ketat.
5.Jika sedang berpergian jauh, usahakan meluruskan kaki secara berkala dan memijit-mijit tungkai sehabis berpergian. (als: dr.Sudibio)

Kadar Gula Darah yang Rendah bisa Merusak Kebahagian Perkawinan

Kadar gula darah yang rendah ternyata tidak baik bagi kebahagiaan perkawinan pasangan suami-istri. Pasalnya, rendahnya kadar gula bikin pasangan lebih cenderung mudah marah dan agresif. Temuan-temuan itu berdasarkan eksperimen-eksperimen terhadap 107 pasangan suami-istri yang  diminta memantau level glukaosa mereka sebelum sarapan pagi dan tidur setiap hari selama 21 hari.



Selain itu, penaliti memberi pasangan tersebut boneka voodoo yang mewakili pasangan mereka berikut 51 jarum. Mereka kemudian diminta bahwa, setiap penghujung hari dalam periode selama 3 pekan, mereka secara rahasia harus menusukkan jarum-jarum yang mengindikasikan betapa marahnya mereka pada teman hidup mereka.

Ternyata semakin rendah level gula darah pasangan maka makin banyak jarum yang ditusukkan suami atau istri pada boneka tersebut. "Ketika level gula darah mereka rendah, mereka menjadi lebih mudah marahdan melampiaskannya pada boneka yang mewakili pasangan mereka", papar ketua tim studi Brad Bushman dari Ohio State University.

"Bahkan mereka yang melaporkan memiliki hubungan baik dengan pasangan mereka berpeluang lebih besar untuk menyatakan kemarahan jika level glukosa mereka lebih rendah."
Setelah menjalani eksperimen itu, para pasangan tersebut dibawa ke sebuah laboratorium tempat (mereka dipisahkan dalam ruang yang berbeda) mereka diberitahu harus main game komputer melawan pasangan.

Setiap kali menang, mereka diberitahu bahwa mereka harus memutuskan seberapa keras suara yang akan dibuat dalam headphone pasangan mereka dan seberapa lama. Hal itu akhirnya sebetulnya tak tejadi, dan mereka tak betul main melawan pasangan melainkan lawan komputer yang memungkinkan mereka menang sekira 50 persen dari waktu permainan.
Begitupun hasil-hasil itu menunjukkan bahwa orang dengan level gula darah yang rata-rata lebih rendah pada petang itu "mengirim" suara lebih keras dan lebih lama ke pasangan mereka.

Lagi pula, analisis lebih lanjut menemukan bahwa orang yang menusukkan jarum pada boneka dengan jumlah lebih banyak lebih besar kemungkinannya mengirim ledakan suara lebih keras dan lebih lama.
"Kami menemukan sebuah hubungan jelas antara dorongan berlaku agresif seperti terlihatdengan boneka dan prilaku agresif sebenarnya", jelas Bushman.

Dia menambahkan, glukosa berfungsi sebagai bahan bakar bagi otak, sebuah organ yang mengkonsumsi sekira 20 persen dari kalori kita walau itu cuma dua persen dari berat badan kita.
Pengendalian diri diperlukan untuk mengatasi kemarahan dan dorongan bersikap agresif membutuhkan energi yang sebagian diberikan  oleh glukosa, catat peneliti tersebut.

"Ini cumma advis sederhana tapi berhasil: sebelum ada melakukan pembicaraan yang sulit dengan pasangan anda, pastikan anda tidak sedang lapar". Temuan-temuan ilmiah tersebut dipublikasikan dalam jurnal Proceeding of the National Academy of Sciences. (ans: afp/bh)

Obat Herbal Tiongkok Kalahkan Obat Modern untuk Mengatasi Penyakit Radang Sendi





"Sebuah studi menemukan, obat herbal Tiongkok bernama Thunder God Vine (Anggur Dewa Guntur) ternyata lebih mujarab ketimbang obat farmasi yang banyak dipergunakan untuk meredakan radang sendi rematik".

Obat herbal itu telah lama digunakan di Tiongkok untuk mengatasi penyakit autoimun yang bisa melumpuhkan penderita. Penyakit tersebut biasanya menyerang sendi-sendi tangan dan kaki.
Obat itu dalam bahasa Mandarin dikenal dengan nama "lei gong teng" dan dikenal kalangan ahli botani sebagai Tripterygium wilfordii Hook F.
Ekstrak herbal itu telah memicu minat pada laboratorium obat karena mengandung ratusan senyawa, termasuk molekul menarik bernama diterpenoids yang diyakini meredakan peradangan dan respon imun.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Inggris BMJ Open, para periset China merekrut 207 pasien penderita radang sendi rematik dan memberi mereka obat ramu-ramuan tadi; obat methorexate (dipasarkan dengan nama Rheumatrex atau Trexall); atau kombinasi keduanya.
Setelah enam bulan, para pasien diperiksa dokter dan juga ditanyai apakah mereka merasakan sesuatu perubahan.

Tanda membaiknya keadaan pasien itu disebut ACR 50 (diambil nama dari American College of Rheumatology) yang mengindikasikan kondisi membaik sebesar 50 persen dari sendi-sendi yang sakit atau bengkak dan kriteria lain seperti nyeri dan disabilitas.
Dari 174 pasienyang menyelesaikan pengujian obat tersebut, 55 persen dari mereka yang menggunakan obat herbal mendapat ACR 50, dibanding 46 persen diantara mereka yang diobati dengan hanya "methotrexate" saja.
Namun kondisi paling menggembirakan didapati diantara orang dalam kelompok yang menggunakan kombinasi herbal "methotrexate": hampir 77 persen dari mereka mencapai takaran perbaikan ACR 50.
Beberapa pengujian terdahulu (tapi berskala kecil) yang melibatkan "thunder god vine" menemukan kemujaraban obat tersebut dibanding obat mirip "placebo"dan anti-peradangan bernama "sulfasalazine". Namun sebagian dari riset itu juga melemahkan potensi efek samping dari herbal tersebut.

Studi terkini itu menyebutkan bahwa efek samping kali ini hampir sama dikalangan pengguna herbal dan "methodrexate", yakni utamanya pengguna mulas. Diantara pasien dalam kelompok herbal, sebagian perempuan mengalami haid  tidak teratur.
Penelitian itu, yang dipimpin Xuang Zhang, pakar rematologi di Peking Union Medical College Hospital di Beijing, mengaku beberapa keterbatasan.
Salah satunya adalah dokter-dokter yang menangani pasien, dan pasien itu sendiri, mengetahui obat apa yang mereka minum, walaupun pakar luar dilibatkan untuk memverifikasi hasil-hasil studi itu.

Keterbatasan lainnya adalah pengujian itu terlalu singkat, untuk mengetahui untuk mengetahui apakah obat herbal tersebut menghambat progres penyakit itu bukannya meredakan "symptomnya". Kelemahan ketiga adalah dosis "methotrexatae" dibatasi hanya 12,5 miligram sepekan. "Ini standar di Asia, walaupun di Barat yang lazim adalah penggunaan dosis lebih tinggi", papar studi itu. (ans: afp/bh)